Selasa, 18 Maret 2025

BUDAYA DINEGERIKU: ANTARA MENERIMA NASIB PASRAH ATAU KURANG KESEMPATAN





Dalam kehidupan sehari-hari sering kali kita mendengar ungkapan atau celotehan yang bunyinya "Ya sudahlah ini sudah takdir-ku , saya sudah begini keadaanya terima saja, atau sudahlah rezeki sudah diatur Tuhan". Ungkapan semacam ini kalau kita lihat mencerminkan pola pikir yang telah mengakar bahkan sudah menyangkit sebagian besar masyarakat negeri ini, dalam istilah penulis ini yang disebut sebagai budaya menerima nasib. Lalu muncul sebuah pertanyaan apa benar suatu kondisi masyarakat, seseorang, pemerintah TIDAK BISA DIUBAH? Apakah ini bentuk kepasrahan atau memang manusianya lah yang tidak mau berkembang? 
Tuisan ini berusaha untuk membahas akar masalah?, lalu bagaimana dampak terhadap perkembangan baik secara personal bahkan bangsa?, serta solusi apa yang kiranya bisa membenahi pola tersebut? Kenapa agama sering kali dijadikan tameng?

Permasalahan pertama, Adanya Pengaruh Jejak Kolonialsime
Selama berabad-abad bangsa dan negara ini dijajah asing yang setiap penjajah berusaha dengan sekuat tenaga untuk membatasi hak dan kesempatan pada rakyat yang dijajah. Para penjajah seringkali menerapkan sistem dimana para sipil tidak memiliki kontrol terhadap hidupnya sendiri, maka munculah mentalitas ketergantungan, kepasrahan. Nah, setelah merdeka pola-pola semacam ini terus ada bahkan per hari-ini masih tertanam kuat baik dalam aspek kehidupan politik,sosial, dan lainnya.

Permasalahan kedua, Pendidikan tidak mendorong kemandirian
Baik sistem era penjajahan dan pasca penjajahan, pendidikan sering kali cenderung untuk menekankan kepatuhan, anti kritik terhadap guru, perbanyak hafalan siswa dibandingkan dengan budaya untuk berpikir kritis, budaya berbeda pendapat apalagi mau inovatif. Dengan sebab itu maka para didikan tersebut dikemudian hari didoktrin untuk menjadi karyawan, pekerja bukan untuk sebagai penemu atau inovator apalagi sebagai pemikir. 

Permasalahan  ketiga, Ketimpangan Sosial dan Kesempatan yang tidak merata
Permasalah dilapangan sering kali tidak adanya akses yang sama terhadap pendidikan, politik dan lain sebagainya. Bagi mereka yang lahir dalam keluarga yang tidak kuat secara ekonomi peluang untuk maju tentu lebih besar dari pada mereka-mereka yang punya hak istimewa. Dari sini muncul anggapan bahwa tidak bisa mengubah nasib meraka.

Permasalahan keempat, Pemahaman Agama yang Keliru
Sudah alasan yang klasik ketika agama menjadi sandaran terkakhir ketika dihadapkan dengan persoalan peliknya kehidupan, banyak manusia pribumi beranggapan segala sesuatu sudah ditentungkan oleh Tuhan lalu dengan mudahnya meraka bilang : "ya kan manusia, manusia tempatnya salah", namun mereka lupa sejatinya agama mengajarkan adanya usaha sebelum tawakal, seperti dalam bunyinya : "Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri" (QS. Ar-Ra'd: 11).

Dalam hadist juga disebutkan : " Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan bahkan, barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."

Keduanya mengajarkan bahwa manusia diberikan cara untuk berubah, berkembang lebih baik dari hari-hari sebelmunya, namun kebanyakan manusia berlindung dan menutup mata dan hatinya ketika dihadapkan untuk perubahan yang lebih baik lebih maju kedepanya. Konsekuensi dari hanya menerima nasib saja. 1. Siklus kemiskinan dan kesenjangan sulit ditembus 2. Nihil inovasi dan perubahan 3. Menjadi generasi yang penakut akan perubahan
Solusinya : 1. Tingkatan budaya kesadaran 2.  Reformasi sistem 3. Mengubah cara pandang terhadap agama 4. Buatkan ekosistem yang mendukung perubahan.

        Pada akhirnya budaya menerima nasib bukanlah sesuatu yang absolut banyak tantangan menghadapi pola-pola yang sudah terbentuk lama dan telah menjadi budaya. Untuk itu perlu adanya upaya kolektif semua pihak meningkatan kesadaran individu atau masyarakat banyak, reformsi sistem, Pahamilah agama secara dengan baik dan benar. Hilangkan mentalitas pasrah, gampang nyerah bangunlah masyarakat bangunlah organisasi kembangkanlah sistem yang berkemajuan. Dengan tulisan telah membahas akar masalah, dampak konsekuensinya, serta solusinya telah dijabarkan penulis. Pertanyaan besarnya maukah bangsa dan republik ini untuk keluar dari kebiasaan lama yang meninakbobokan menuju perubahan kendali atas masa depan yang maju nan terdepan?

1 komentar:

PERJALANAN PERGI UNTUK KEMBALI

Gambar 1.1 Stasiun Lempuyangan Gambar 1.2 Stasiun Tanjung Karang Gambar 1.3 Pelabuhan Merak-Bakauheni        Gambar 1.4 Stasiun Jakarta Jam ...